Senin, 27 Februari 2012

STUDI PENCEGAHAN EROSI PADA PASCA KEGIATAN PENAMBANGAN


STUDI PENCEGAHAN EROSI PADA PASCA KEGIATAN PENAMBANGAN DI PT.KEMAKMURAN PERTIWI
TAMBANG KECAMATAN WASILE SELATAN
 KABUPATEN HALMAHERA TIMUR



LAPORAN  KERJA PRAKTEK




 










OLEH  :

                                                                  ASRUL AHMAD
                                                                  12105 10212 07 058




JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU UTARA
(UMMU) TERNATE

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.            Latar belakang
Indonesia memiliki sekitar 101,73 juta Ha hutan tropis dan menempati urutan terbesar ke dua dunia meliputi sekitar sepuluh persen hutan tropis dunia (Badan Planologi Dephut, 2003). Iklim di indonesia merupakan iklim tropis dengan curah hujan yang tinggi, sehingga mengakibatkan indonesia rentang terhadap erosi. Angka curah hujan di indonesia relatif tinggi bila dibandingkan dengan daerah-daerah tropis lainnya. Tidak hanya curah hujan yang tinggi, namun vegetasi, kelerengan, jenis tanah, dan iklim secara keseluruhan juga mempengaruhi erosi. Penutupan vegetasi menjadi faktor utama dalam mempengaruhi rata-rata aliran permukaan dan pengangkutan tanah. Kemiringan lahan dan panjang serta pengolahan tanah yang kurang tepat juga meningkatkan erosi pada tanah.
Banyaknya banjir dan tanah longsor di berbagai daerah tidak luput dari akibat erosi. Tidak hanya itu, erosi juga dapat menyebabkan penurunan kualitas sungai seperti kekeruhan, pendangkalan pada tubuh sungai, pembuatan delta pada muara sungai, dan yang paling berbahya adalah hilangnya unsur hara yang berakibat hutan untuk suksesi.


Oleh karena itu pencegahan erosi sangatlah penting dalam usaha untuk meminimalkan dampak lingkungan yang terjadi di suatu lokasi pasca kegiatan penambangan di lakukan, atas dasar latar belakang inilah kami melakukan kerja praktek (KP) dengan judul : “ studi pencegahan erosi pada pasca kegiatan penambangan di PT. Kemakmuran Pertiwi Tambang Kecamatan Wasile Selatan Kabupaten Halmahera Timur”
1.2.            Rumusan masalah 
Adapun permasalahan yang menjadi kosentrasi dalam kerja praktek ini adalah sebagai berikut :    
·      Mengetahui Jenis-jenis erosi yang berada di PT. Kemakmuran pertiwi tambang
·      Mengetahui cara dalam pencegahan erosi pada pasca kegiatan penambangan.

1.3.            Batasan masalah
            Adapun dalam kegiatan kerja praktek ini, batasan masalah yang diambil sebagai  berikut :
·      Pemantauan Curah Hujan
·      Sarana dan cara untuk penanggulangan erosi pada pasca kegiatan penambangan di PT. Kemakmuran Pertiwi Tambang dan untuk meminimalkan dampak lingkungan.
1.4.            Tujuan penelitian  
Tujuan dari kerja praktek adalah untuk memahami atau mengetahui serta memperoleh kesimpulan dari tahap pencegahan erosi pada pasca kegiatan penambangan di PT.Kemakmuran Pertiwi Tambang Kecamatan Wasile Selatan Kab. Halmahera Timur.

1.5.             Manfaat kerja praktek
·      manfaat teoritis
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi peniliti tentang pencegahan erosi. Di samping itu hasil penilitian ini juga dapat di harapkan berguna bagi pengembang ilmu pengetahuan khususnya pencegahan erosi pada pasca kegiatan penambangan, serta dapat di jadikan sebagai referensi bagi peneliti – peneliti selanjutnya.

·      manfaat praktis
Hasil kerja praktek ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi pihak perusahan, terutama PT. Kemakmuran Pertiwi Tambang, Maupuan bagi praktisi tambang lainnya yang kaitannya dengan kegiatan penambangan.



1.6.            Metode Penelitian
Untuk mendukung kerja praktek ini diperlukan data-data yang diperoleh dari studi kepustakaan berupa literatur-literatur, studi lapangan dengan melihat dan meneliti langsung, dan data standar yang di pakai di PT.Kemakmuran Pertiwi Tambang Kecamatan Wasile Selatan Kab. Halmahera Timur Maka dari itu, adapun metode penelitian yang dilakukan dalam proses penyusunan tulisan ini adalah :
·      Studi literatur
·      Mengumpulkan data-data yang diperlukan
·      Mengolah data dan membuat laporan

1.7.            Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang di gunakan dalam kerja praktek  ini adalah :
·      Studi Literatur
Studi literatur di lakukan dengan mencari bahan – bahan pustaka pada :
Ø  Perpustakaan
·      Pengumpulan Data Lapangan
Data yang di perlukan untuk menunjang kegiatan kerja praktek ini adalah :
Ø  Data lapangan
Ø  Dokumentasi lapangan

BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1.      Lokasi dan Kesampain Daerah
Lokasi penelitian daerah Ekor terletak pada bagian barat dari lengan timur lautan darat Halmahera, secara administratif termasuk dalam Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara. Secara  geografis terletak pada posisi 1280  02 BT – 1280 15  dan 000 54 LU- 010 08 LU, luas total 21,130 ha.

Untuk mencapai lokasi tersebut dapat ditempuh dengan rute sebagai berikut :
  1. Perjalanan ke Ekor dengan menggunakan Speedboad dari Ternate ke Dudinga kurang lebih satu jam dan kemudian naik angkutan darat atau naik motor ojek dari Dudinga ke Bobaneigo kurang lebih sekitar 15 menit, dan naik angkutan darat dari bobaneigo ke Ekor ± 2 jam.
  2. Perjalanan ke Ekor juga bisa melalui Sofifi dengan speedboad dari Ternate ke Sofifi kurang lebih sekitar 1 jam, dan kemudian naik angkutan darat dari Sofifi ke Ekor ± 3 jam.



  Lokasi penelitian












Sumber : Pemerintah  Kab.Halmahera Timur
Gambar 2.1. Peta Lokasi Kesampaian Daerah



2.2.      Kondisi Geologi Regional Pulau Halmahera
Indonesia bagian timur merupakan wilayah interaksi konvergensi antara empat lempeng tektonik utama yakni lempeng Australia, Philipina, Pasifik dan Asia. akibat proses konvergensi pada bidang-bidang batas lempeng-lempeng tektonik maka wilayah Indonesia bagian timur merupakan suatu zona lebar yang telah mengalami tektonisasi intensip, ditandai oleh struktur kompleks dan perkembangan tektonik yang didominasi oleh sejumlah peristiwa-peristiwa perbenturan (collision) yang telah selesai atau hingga saat ini masih berlangsung aktif.
Pulau Halmahera di dominasi oleh batuan vulkanik dimana berjalanannya waktunya menjadi lingkungan batuan tertua, di bagian selatan tersingkap dipulau Bacan juga pulau Obi dan sekitarnya yaitu batuan metamorf skis kristalin berumur jura. Wilayah ini merupakan busur kepulauan sejak akhir paleogen, dimana batuan vulkanik berumur akhir dengan batuan kalastik sedimen karbonat yang diperkirakan merupakan aktifitas vulkanik pada lingkungan laut.
Mandala tektonik Halmahera tengah (Gee, Gebe, Weda dan Waigeo) dicirikan dengan batuan ultra basa, sedangkan Halmahera Barat (Morotai, Bacan, dan Obi) oleh batuan gunung api. Zona perbatasan antara kedua mandala tersebut terisi oleh batuan formasi Weda yang sangat terlipat dan tersesarkan. Disebut garis meridian. Struktur lipatan berupa sinklin dan antiklin terlihat jelas pada formasi Weda berumur miosen tengah-pliosen awal. Sumbu lipatan berarah  utara-selatan, timur laut-barat daya dan barat laut tenggara. Struktur sesar terdiri dari sesar normal dan sesar naik, umumnya berarah utara-selatan dan barat laut-tenggara.
Kegiatan tektonik kemungkinan dimulai pada kapur akhir dan awal tersier, dicirikan oleh adanya komponen batu lempung berumur kapur dan batuan ultra basa didalam konglomerat yang membentuk formasi dorosagu. Akibat dari perkembangan tektonik tersebut, maka Maluku Utara dan (Pulau Halmahera dan pulau-pulau sekitarnya) dikelompokan menjadi tiga wilayah tektonik. Masing-masing wilayah ini berbeda dari segi fisiografi, kelompok batuan yang membentuknya, stratigrafi, struktur dan perkembangan tektonik.





Sumber : (Malan A. Alwan, Laporan Tugas Akhir 2006)
Gambar 2.2. Peta Geologi Regional Daerah Halmahera
2.2.1.   Morfologi
Satuan morfologi yang terdapat pada lokasi kerja praktek dapat di bedakan menjadi beberapa satuan morfologi, yaitu morfologi pegunungan terletak pada bagian selatan, morfologi perbukitan dan morfologi dataran rendah terletak di bagian utara.
Morfologi pegunungan merupakan kelompok pegunungan dengan komposisi batuannya adalah dominan batuan ultramafik. Morfologi perbukitan yang terhampar dari barat ke timur umumnya hanya menepati daerah pada bagian utara dari pegunungan atau merupakan bagian dari kaki pegunungan Wato-wato dan morfologi dataran rendah menempati wilayah pada bagian utara lokasi penelitian, yang tersusun oleh endapan alluvial maupun fluvial.
Secara umum daerah penelitian terdapat 3 (tiga) satuan geomorfologi yaitu satuan geomorfologi dataran sampai perbukitan landai, satuan geomorfologi perbukitan bergelombang lemah sampai terjal, dan satuan geomorfologi perbukitan bergelombang kuat sampai sangat terjal.





2.2.2.   Lengan Timur Laut (Norther Arm)
Qa       Aluvium :  kerakal, kerikil, pasir dan lempung
Q1       Batugamping Terumbu : batugamping koral, breksi batugamping dan napal; termasuk Batugamping Labi-labi (Pertamina, 1989)
Tnl      Karbonat Niogen : batugamping bersisipan napal, batupasir gampingan, batulanau gampingan dan breksi batugamping; termasuk Batugamping Pada Kelompok Saolat dan Formasi Tingteng (Pertamina, 1989; Apandi & Sudana, 1980; Supriatna, 1980)
Tns 1   Sedimen Klastik Neogen : batupasir, batulanau, batulempung dan napal; bersisipan konglomerat, batugamping dan lignit; termasuk Formasi Ifis dan Formasi Galausuta dari Kelompok Saolat, serta Batupasir Wasile dan Formasi Weda (Pertamina, 1989; Hall dkk, 1988C; Supriatna, 1980; Apandi & Sudana, 1980)
Tns 2   Sedimen Klastik Neogen Tercenanggani Kuat : batuan mirip Kelompok Weda atau Kelompok Saolat tak terurai dan tercenggani kuat di sepanjang Lajur Tengah (Pertamina, 1989)
Tm 1   Karbonat Miosen : batugamping bersisipan batupasir gampingan dan batulanau gampingan; termasuk Batugamping Subaim dari Kelompok Gogaile (Hall dkk, 1988C; Petamina, 1989)
Tom 1 Karbonat Oligo-Miosen ; batugamping bersisipan batugamping pasiran, napal, batupasir gampingan dan breksi; setempat puritan; termasuk Formasi Tutuli Kelompok Gogaile (Supriatna, 1980; Apandi & Sudana, 1980; Pertamina, 1989)
Tps      Sedimen Klastik Paleogen : batupasir, batulanau dan batulempung; bersisipan batugamping dan tufa; stempat karbonan; termasuk Formasi Lili Kelompok Gogaile (Pertamina, 1989)
Tev      Batuan Gunungapi Eosen : breksi gunungapi dan lava; bersusunan andesit-basal; termasuk Batuan Gunungapi Yamatotoamu (Pertamina; 1989)
Ti        Terobosan Tertier : diorite dan andesit.
Tpes    Sedimen Klastik Paleosen-Eosen : perselingan batupasir dan batulempung; besisipan konglomerat; termasuk Formasi Walal Kelompok Akelamo dan Formasi Dorosagu lama (Pertamin, 1989; Supriatna, 1980; Apandi & Sudana, 1980)
Tpel    Karbonat Paleosen-Eosen : batugamping numulit dan batulumpur; bersisipan batupasir gampingan, batulanau gampingan dan konglomerat; termasuk Batugamping Gelondongan Kelompok Akelamo dan Formasi Dorosagu lama (Pertamina, 1989; Supriatna, 1980; Apandi & Sudana, 1980)
Ksv     Sedimen Klastik Gunungapi Kapur : batupasir dan breksi andesit-basal; termasuk Breksi (Formasi) Dodaga (Hall dkk, 1988a; Supriatna, 1980; Apandi & Sudana, 1980)
JKI     Karbonat Jura-Kapur : batugamping, bersisipan batupasir gampingan dan napal; termasuk Batugamping Gau (Hall dkk, 1988a,C; Pertamina, 1989)
Un       Batu Ultramafik : serpentinit, lersolit, harsbugit, norit, dunit, gabro, diabas dan basal; umumnya tergerus kuat.
2.2.3.   Lengan Tenggara (South East Arm)
Qa       Aluvium : kerakal, kerikil, pasir, lempung dan Lumpur
Q1       Batugamping Terumbu : batugamping koral
Tns      Sedimen Klastik Neogen : batupasir, batugamping, konglomerat, napal dan batulempung, termasuk Formasi Waci dan Formasi Sepo dari Kelompok Dote serta Formasi Weda lama (Pertamina, 1989, Supriatna, 1980, Apandi & Sudana, 1980)
Tn1     Karbonat Neogen : batugamping Klastik; setempat bersisipan napal; termasuk Batugamping Tingteng (Pertamina, 1989; Supriatna, 1980; Apandi & Sudana, 1980)
Tml     Karbonat Miosen : batugamping klastik dan batugampingn terumbu; setempat bersisipan napal; termasuk Batugamping Wale (Pertamina, 1989)
Tes      Sedimen Klastik Eosen : batupasir, batulanau, batulempung, klastik gunungapi dan batugamping, termasuk Formasi Sagea (Hall dkk, 1988C; Pertamina, 1989)
Tpel    Karbonat Paleosen-Eosen : batugamping klasik bersisipan batulumpur; termasuk Batugamping Paniti Kelompok Paniti (Pertamina, 1989)
Tpes    Sedimen Klastik Paleosen-Eosen : konglomerat dan batupasir; bersisipan batugamping dan batubara; termasuk Formasi Gemaf Kelompok Paniti (Hall dkk, 1988; Pertamina, 1989).



2.3.      Topografi Dan Vegetasi
2.3.1.   Topografi
Topografi daerah penambangan merupakan daerah pegunungan, bagian timur laut pendataran dengan ketinggian antara 20-30 meter, bagian timur adalah sungai geloulo karena adanya jaringan aliran air di sebelah timur dan barat laut, pulau Halmahera, yang merupakan daerah pegunungan dengan aliran sungai yang membentuk pendataran. Gunung tertinggi adalah Gunung Wato-Wato dengan ketinggian 1.442 meter dpl, dan daerah pantai dimana terdapat aliran sungai mempunyai ketinggian antara 30-50 meter, sehingga ada perbedaan sekitar 1000 meter ke atas, daerah ini di pusatkan pada daerah dataran yang mempunyai ketinggian antara 50-400 meter, perbedaan ketinggian dengan daerah pantai sekitar 350 meter. Sebagian lereng rata-rata di bagian utara dan timur rendah, sedangkan dibagian selatan dan barat tinggi. Dibagian atas lereng terdapat pendataran dengan bagian sisi yang terjal, kemiringan lereng antara 250- 400, bahkan di bagian tengah dapat mencapai 600 dan tumbuhan di daerah pendataran di dominasi oleh tumbuhan tropis, dari titik puncak lereng hingga kaki bukit.
2.3.2.   Vegetasi 
Vegetasi Daerah kerja praktek terdiri dari hutan lebat, semak-semak dan tumbuhan  rawa-rawa dan di sekitar dataran bawah bukit terdapat perkebunan milik masyarakat. Terdapat dua jenis tumbuhan di wilayah penambangan yakni tumbuhan primer dan tumbuhan sekunder. Tumbuhan primer yakni tumbu-tumbuhan yang belum mendapat gangguan atau pengerusakan baik oleh perusahaan maupun oleh penduduk. setempat pada daerah tambang di bukit-bukit, dengan jenis-jenis yang dominan. Sedangkan tumbuhan bawah atau sekunder adalah vegetasi yang telah tumbuh kemudian tumbuhan asli mengalami gangguan atau pengerusakan serta penggusuran.
Penyebaran tumbuhan sekunder meliputi keseluruhan daerah datar sekitar kosentrasi penduduk dan pemukiman (emplasemen). Tumbuhan ini terdiri dari tanaman pangan dengan sedikit variasi tanaman industry,  yaitu rumput-rumputan, semak serta tanaman penghijau  ataupun perkebunan dan lain-lain.
             Sumber : Dokumentasi Lapangan  Januari 2012
                             Gambar 2.3. Vegetasi Daerah Penelitian
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1.      EROSI DAN SEDIMENTASI
Erosi adalah proses detasemen dan perpindahan materi tanah oleh angin atau air. Di Afrika Selatan, air merupakan agen dominan yang menyebabkan erosi tanah, (J.JLe Roux dkk, 2007 ). Di negara – negara Mediterania erosi tanah disebabkan oleh sering intensitas curah hujan di daerah semi kering, terutama di daerah lereng relatif curam,yang lithologiesnya lembut dan vegetasinya jarang ( Jian Guo Liu dkk, 2009 ). Di Kaledonia Baru (SWPasifik ), erosi terjadi karena meningkatnya anthropisation, seperti kebakaran hutan, penggundulan hutan, dan penambangan terbuka dan juga karena sedimentasi di wilayah pesisir dan laut ( Issabelle Rouet dkk, 2009 ).

Erosi dapat juga disebut pengikisan atau kelongsoran sesungguhnya merupakan proses penghayutan tanah oleh desakan-desakan atau kekuatan air dan angin, baik berlangsung secara alamiah ataupun sebagai tindakan manusia. Secara umum dapat dikatakan bahwa erosi dan sedimentasi merupakan proses terlepasnya butiran tanah dari induknya di suatu  tempat dan terangkatnya material tersebut dari gerakan air atau angin kemudian diikuti dengan pengendapan material yang terangkut di tempat yang lain.
 Umumnya yang paling berpotensi penyebab terjadinya erosi  adalah air.
Ø Air permukaan :
Ø Air permukaan adalah air yang terdapat di atas permukaan dan mengalir di atas permukaan tanah. Jenis air ini yaitu meliputi ; air limpasan, air buangan (limbah), dan lapisan akuifer (aquifer) yang telah terpotong akibat penggalian.
Ø Air bawah permukaan
Air bawah permukaan adalah air yang terdapat dan mengalir dibawah permukaan tanah. Jenis air ini meliputi ; air tanah, dan air rembesan.
Ø Air tanah
Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat didalam ruang antara butir-butir tanah yang membentuk aliran dan di dalam retak-retak dari batuan. Air bawah permukaan tanah secara hidrologis dapat dibedakan menjadi pada daerah jenuh (saturated zone) dan air pada daerah  tak jenuh air (unsaturated  zone) terdapat pada bagian teratas dari lapisan tanah, dicirikan oleh gabungan antara tiga fase cair (air adsorpsi, air kapilar, air infiltrasi) dan fase gas.

3.2.      JENIS-JENIS EROSI
Jenis-jenis erosi dapat di bedakan menjadi 4 (empat) antara lain :
1.    Splash erosion (Erosi Percikan)                 
2.    Sheet erosion (Erosi Lembar)
3.    Rill erosion (Erosi Alur)
4.    Gully erosion (Erosi Gully)
§  Splash erosion (erosi percikan) adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah bagian atas oleh tenaga kenetik air hujan bebas atau sebagai air lolos.
  • Sheet erosion (erosi lembar) yaitu erosi yang terjadi ketika lapisan tipis pemukaan tanah di daerah berlereng yang terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian (run-off).
  • Rill erosion (erosi alur) adalah pengelupasan yang di ikuti dengan pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air.
  • Gully erosion (erosi guli) adalah pembentukan jajaran parit yang lebih dalam dan merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur.
Erosi tanah menurut ellison (1947) bahwa erosi tanah dapat di bedakan menjadi dua kelas berdasarkan macam penyebabnya yaitu :
1.    Erosi geologis atau alami
Erosi geologis atau alami adalah suatu kejadian pengikisan lapisan permukaan tanah yang selalu akan terjadi, dan berlangsung secara alami akibat bekerjanya sejumlah penyebab alami erosi yaitu curah hujan, limpasan dan lelehan es. Laju tanah tererosi secara geologis hanya di kendalikan oleh faktor-faktor iklim,topografi,tumbuhan dan tanah.
2.    Erosi dipercepat
Erosi di percepat adalah suatu kejadian pengikisan lapisan permukaan tanah yang lajunya lebih besar laju erosi geologis akibat adanya kegiatan manusia yang merusak kemantapan peranan faktor topografi, tanah, dan tumbuhan. Laju erosi tanah dipercepat ini di kendalikan oleh faktor-faktor iklim, topografi, tumbuhan, tanah, dan manusia. Karena lajunya melebihi laju pembentukannya maka dapat berdampak buruk pada kelestarian potensi sumber daya tanahnya.

3.3.      FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EROSI
3.3.1.      Iklim
Faktor iklim yang besar pengaruhnya terhadap erosi tanah adalah hujan, temperatur, dan suhu. Sejauh ini hujan merupakan faktor yang paling penting. Hujan memaikan peranan penting  dalam erosi tanah melalui  tenaga penglepasan dari pukulan butir-butir hujan pada permukaan tanah dan sebagian melalui konstribusinya terhadap aliran. Karakteristik hujan yang mempunyai pengaruhnya terhadap erosi tanah meliputi jumlah atau kedalaman hujan, intensitas dan lamanya hujan. Jumlah hujan yang besar tidak selalu menyebabkan erosi berat jika intensitasnya rendah,  dan sebaliknya hujan lebat dalam waktu singkat mungkin juga hanya menyebabkan sedikit erosi karena jumlah hujannya hanya sedikit. Jika jumlah dan intensitas hujan keduanya tinggi, maka erosi tanah yang terjadi cenderung tinggi.
Energi hujan terdiri dari dua komponen; energi potensial (EP) dan energi kinetik (EK). Energi potensial timbul adanya perbedaan tinggi antara benda dan titik tinjau. Energi potensial didefinisikan sebagai hasil kali antara massa, beda tinggi, dan percepatan gravitasi.

3.3.2.      Tanah
Secara fisik, tanah terdiri dari partikel mineral dan organik dengan berbagai ukuran. Pertikel-pertikel tersebut tersusun dalam bentuk matriks yang pori-porinya kurang lebih 50%, sebagian terisi oleh air dan sebagian lagi terisi oleh udara. Secara esensial, semua penggunaan tanah dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik tanah. Sifat fisik tanah yang berpengaruh meliputi ; tekstur, struktur, infiltrasi, dan kandungan bahan  organik.



3.3.3.      Topografi
Faktor topografi umumnya dinyatakan kedalam kemiringan dan panjang lereng. Secara umum erosi akan meningkat dengan meningkatnya kemiringan dan panjang lereng. Pada lahan datar, percikan butir air hujan melemparkan partikel tanah ke udara ke segalah arah secara acak, pada lahan miring, partikel tanah lebih banyak yang terlempar ke arah bawah dari pada yang ke atas, dengan propersi makin besar dengan meningkatnya kemiringan lereng. Selanjutnya, makin panjang lereng cenderung makin banyak air permukaan yang terakumulasi, sehingga aliran permukaan lebih tinggi kedalaman maupun kecepatannya.

3.3.4.      Vegetasi
Vegatasi merupakan pengaruh yang bersifat melawan terhadap faktor-faktor lain yang erosif seperti hujan, topografi, dan karakteristik tanah. Pengaruh vegetasi dalam memperkecil laju erosi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.    Vegetasi mampu menangkap (intersepsi) butir air hujan sehingga energi kinetiknya terserap oleh tanaman dan tidak menghantam langsung pada tanah.
2.    Tanaman penutup mengurangi energi aliran, meningkatkan kekerasan sehingga mengurangi kecepatan aliran permukaan untuk melepas dan mengangkut pertikel sedimen.
3.    Perakaran tanaman meningkatkan stabilitas tanah dengan meningkatkan kekuatan tanah, granularitas dan porositas.
4.    Aktifitas biologi yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman membuktikan dampak positif pada porositas tanah.
5.    Tanaman mendorong transpirasi air, sehingga lapisan tanah menjadi  kering dan memadatkan lapisan dibawahnya. 


3.4.      TEKNOLOGI PENGENDALIAN ATAU PENCEGAHAN EROSI
Dalam usaha untuk mengendalikan atau mencegah erosi, hendaknya diperhatikan faktor-faktor  yang mempengaruhi erosi tersebut. berdasarkan pengendalian faktor-faktor yang dapat diatasi oleh kita, maka kita dapat menentukan bahwa usaha pengendalian erosi ini seharusnya didasarkan prinsip-prinsip :
a.    Memperbesar resistensi permukaan tanah sehingga lapisan permukaan tanah tahan terhadap pengaruh tumbukan butir-butir air hujan;
b.    Memperbesar kapasitas infiltrasi tanah, sehingga lajunya aliran permukaan dapat diredusir (dikurangi);
c.    Memperbesar resistensi tanah sehingga daya rusak dan daya hanyut aliran permukaan terhadap partikel-partikel tanah dapat diperkecil atau diredusir.
Dalam memperkecil prinsip-prinsip tesebut, maka usaha pengendalian erosi dan usaha pengawetan tanah dapat dilaksanakan dengan teknologi atau cara-cara sebagai berikut :



3.4.1.      Cara Vegetasi Atau Biologis
Usaha untuk mengendalikan erosi dan pengawetan tanah (dan air) yang dilakukan dengan memanfaatkan cara vegetatif adalah didasarkan pada peranan tanaman, dimana tanaman itu sebagian telah diterangkan mempunyai peranan untuk mengurangi erosi dan atau pengawetan tanah dalam pelaksanaannya meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut; penghutanan kembali (reboisasi)/penghijauan, penanaman tanaman penutup tanah, penanaman tanaman secara garis kontur, penanaman tanaman dalam strip, penanaman secara bergeliran, pemulsaan atau pemanfaatan serasah tanaman.

3.4.2.      Cara Mekanis
Usaha pengendalian erosi dapat juga dilakukan dengan cara teknis mekanis walaupun dalam kenyataannya cara ini membutuhkan pembiayaan yang besar dibandingkan dengan cara vegetatif, karena menyangkut pembuatan prasarana, seperti :
·      Pembuatan jalur-jalur bagi pengaliran air dari tempat-tempat tertentu ke tempat-tempat pembuangan (water ways)
·      Pembuatan teras-teras atau sengkedan-sengkedan agar aliran air dapat terhambat sehingga daya angkut atau daya hanyut berkurang
·      Pembuatan selokan dan parit ataupun rotak-rotak pada tempat-tempat tertentu
·      Melakukan pengolahan tanah (ingat bukan pengolahan tanaman) sedemikian rupa yang sejajar dengan garis kontur.
Dengan pembuatan-pembuatan dan perlakuan seperti itu atau usaha pengendalian erosi secara mekanis ini dapat diharapkan terkurang atau terhambatnya aliran permukaan (run off) sehingga daya pengikisannya terhadap tanah akan diperkecil pula.

3.4.3.      Cara Kimia Dalam Pencegahan Erosi
Yang dimaksud dengan cara kimia dalam usaha pencegahan erosi, yaitu dengan pemanfaatan soil conditioner atau bahan-bahan pemantau tanah sehingga tanah dalam hal memperbaiki struktur tanah sehingga tanah tetap resisten terhadap erosi.
Menurut M. De Boodt, dalam Use on Soil Conditioner Around the Word, (1975), pemantapan tanah dengan bahan pemantap ialah pembentukan struktur tanah dengan pori-pori atau ruang udara didalam tanah di antara agregat-agregatnya yang sekaligus mencapai kestabilan, dimana penggunaan bahan pemantap tersebut dapat berupa bahan alami ataupun buatan tetapi terbatas pada jumlahnya yang sedikit.

3.5.      CURAH HUJAN DAN INTENSITAS CURAH HUJAN
3.5.1.       Curah Hujan
Curah hujan adalah banyaknya air hujan yang jatuh ke bumi persatu satuan luas permukaan pada suatu jangka waktu tertentu. Curah hujan merupakan salah satu faktor penting dalam suatu sistem penyaliran dan sangat berpotensi terjadi erosi, Karena besar kecilnya curah hujan akan mempengaruhi besar kecilnya air limpasan. Besar kecilnya curah hujan dapat dinyatakan sebagai volume air hujan yang jatuh pada suatu areal tertentu dalam jangka waktu yang relatif lama, oleh karena itu besarnya curah hujan dapat dinyatakan dalam m3/satuan luas, secara umum dinyatakan dalam tinggi air (mm). curah hujan 10 mm berarti tinggi hujan yang jatuh pada areal seluas 1 m2 adalah 10 liter. Angkah-angkah curah hujan yang diperoleh sebelum diterapkan dalam rencana pengendalian air permukaan harus diolah terlebih dahulu. Data curah hujan yang akan dianalisis adalah curah hujan harian maksimum dalam satu tahun dinyatakan dalam mm/24 jam.

3.5.2.      Intensitas Curah Hujan
Intensitas Curah Hujan adalah jumlah hujan yang jatuh dalam areal tertentu dalam jangka waktu yang relatif singkat, dinyatakan dalam mm/detik, mm/menit dan atau mm/jam. Untuk mengetahui intensitas curah hujan disuatu tempat, maka digunakan alat pencatat curah hujan. Intensitas curah hujan biasanya dinotasikan dengan huruf I dengan satuan mm/jam, yang artinya tingkat dan kedalaman yang terjadi adalah sekian mm dalam periode 1 jam.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Pemantauan Curah Hujan
Curah hujan adalah banyaknya air yang jatuh ke bumi persatu satuan luas permukaan pada suatu jangka waktu tertentu. Maka dari itu hasil pemantauan dan pengukuran curah hujan yang di lakukan di PT. Kemakmuran Pertiwi Tambang dengan menggunakan alat ukur curah hujan yaitu rain gauge yang pengambilannya di lakukan di post ceker (daerah tambang- mine site) PT. Kemakmuran Pertiwi Tambang.
Hasil dari pantauan curah hujan yang di tabulasikan ke lampiran grafik 1 disimpulkan bahwa tingkat curah hujan di bulan Januari, 2012 tergolong Tinggi. Total jumlah curah hujan pada bulan Januari 2012 adalah 219 mm dengan kejadian hujan 14 kali dan total waktu hujan berlangsung 50.5 jam.
Hal-hal yang perlu di lakukan dengan tingkat curah hujan seperti diatas adalah:
1.      Melakukan perawatan settling pond dan melakukan perbaikan aliran run off ditambang agar pembagian aliran air hujan dapat merata kesemua settling pond yang ada, karena apabila terjadi hujan yang curah hujannya besar dapat meminimalisir luapan air yang tidak tertampung di settling pond.

4.2.      Jenis – Jenis Erosi
Pada daerah penelitian/kerja praktek di PT.KPT HARITA GROUP terdapat empat jenis erosi yang terjadi di lokasi/lahan yang sudah di tata dan yang telah di revegetasi, erosi-erosi tersebut antara lain :
1.             Splash erosion
2.             Sheet erosion
3.             Rill erosion
4.             Gully erosion
Ø  Splash erosion adalah proses terkelupasnya partikel-partikel tanah bagian atas oleh tenaga kenetik air hujan bebas atau sebagai air lolos.
Ø  Sheet erosion yaitu erosi yang terjadi ketika lapisan tipis pemukaan tanah di daerah berlereng yang terkikis oleh kombinasi air hujan dan air larian (run-off).
Ø  Rill erosion adalah pengelupasan yang di ikuti dengan pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air.
Ø  Gully erosion adalah pembentukan jajaran parit yang lebih dalam dan merupakan tingkat lanjutan dari erosi alur.




4.3.      Cara Untuk pencegaha erosi pada pasca kegiatan penambangan di PT. Kemakmuran Pertiwi Tambang Antara Lain :
1.    Pemantauan aliran air permukaan (run off) dan erosi
2.    Cara mekanis
3.    Cara vegetasi

Ø    Pemantauan aliran air permukaan (run off), dan erosi
Pemantauan aliran air permukaan (run off), genangan air dan erosi dilakukan dibeberapa area yang berpotensi dapat terjadi erosi dan mempengaruhi kualitas air sungai serta alur hidup secara langsung.
Dari hasil pengamatan patok erosi, terdapat 3 Settling Pond yang dilakukan perawatan karena sedimen yang ada telah melebihi 50 cm yaitu di pit  Bougenville SP 1, di pit Dahlia SP 8, dan di pit Edelweis SP 5 serta perapihan kantung air dan aliran air yang berada di Pit edelweis dan Pit Dahlia. Sedangkan dari hasil pengamatan, sedimen SP yang telah melebihi 50 cm dan belum dilakukan perawatan berada di area PIT Mawar, Semangka, Flamboyan dan SP KM 18. Selain itu dilakukan pembuatan settling pond di area stok yard di EFO 1 bekerja sama dengan dept lab & QC untuk mencegah air limpasan hujan dari stok yard di EFO 1 langsung menuju air sungai. Titik pemantauan dapat dilihat pada tabel di daftar lampiran B.




Gambar 4.3. Beberapa kegiatan pemantauan patok erosi dan pengerukan SP di efo dan pit    

Ø    Cara mekanis untuk pencegahan erosi dan sarana pengendalian erosi  untuk meminimalkan dampak lingkungan
Adapun cara-cara mekanis dalam penanggulanan erosi pasca kegiatan penambangan di PT. KPT Harita Group antara lain :
a.     Penataan lahan
b.         Pembuatan saluran air/drainase
c.         Pembuatan settling pond



a.                  Penataan Lahan Pasca Tambang
Penataan lahan adalah kegiatan penataan kembali areal yang telah di tinggalkan setelah kegiataan penambangan. Penataan lahan tersebut di sertakan dengan pembuatan terassering dan saluran air serta membuat kantong-kantong air untuk menampung air yang mengalir dari saluran air dan akan mengalirkan air ke settling pond/kolam pengendapan sehingga laju erosi pun dapat berkurang.
Pembuatan terassering biasanya di lakukan pada daerah-daerah yang memiliki slop yang tinggi dan tanah yang tidak stabil untuk mengurangi pergerakan tanah dan run off yang dapat menyebabkan longsoran, pembuatan terassering minimal 5 meter dan grade maksimal 30%  agar tebing-tebingnya bisa di tanami dengan tanaman pioner dan tanaman cover crop pada ujung dalam terassering agar tidak merusak bench-bench yang terbentuk.

Kegiatan penataan lahan di PT. kemakmuran Pertiwi Tambang dengan mengunakan alat-alat mekanis yaitu:
5.                   Excavator
6.                   Buldoser

Sumber PT. Kemakmuran Pertiwi Tambang Hal-Tim
Gambar: 4.4.  Kegiataan penataan lahan

Gambar :4.5. Lahan yang sudah ditata





b.                  Pembuatan Saluran Air (Drainase)
Pembuatan saluran air (drainase) biasanya di lakukan pada daerah yang sudah di tata (regreding), saluran air (drainase) sangatlah penting karena merupakan tempat penyerapan air di daerah sekitarnya dan dapat mengurangi debit air yang  mengalir dari permukaan sehingga tidak dapat menyebabkan adanya pergerakan tanah/erosi. pembuatan Saluran air/drainase pada lahan reklamasi sangatlah  penting untuk pencegahan erosi, Drainase dapat di bedakan menjadi 2 yaitu: drainase cabang, dan drainase utama.
Pembuataan drainase biasanya pada daerah yang memiliki elevasi lebih rendah dibandingkan dengan daerah sekitarnya, dengan adanya pembuatan drainase pada lahan reklamasi sangatlah penting karena dapat menunjang keberhasilan suatu kegiatan reklamasi.

 
Gambar :4.6.   Drainase cabang dan drainase utama
c.                   Pembuatan Settling Pond
Sedimen trap settling pond yaitu kolam yang dirancang untuk mengendapkan bahan-bahan padat dari air buangan tambang (air tercemar oleh tanah dan bahan padat lainnya) Disebut juga dengan istilah settling pond.
Dengan adanya kolam buatan untuk mengendapkan air tambang termasuk air hujan yang turun kedalam bukaan tambang terbuka untuk mencegah pencemaran pada perairan umum tempat pengaliran air tambang. Pembuatan kolam pengendapan dan pengoperasian kolam biasanya merupakan kewajiban perusahaan pertambangan yang beroperasi melakukan kegiatan penambangan di areal tersebut, karena telah dicantumkan dalam ANDAL dan RKL.

Pembuatan settling pond (sedimen trap) dengan menggunakan alat gali (long arms) yang telah di design,namun sebelum design pembuataan settling pond haruslah kita ketahui berapa luasan, dan kemiringan daerah suatu pit dan luas daerah tangkap hujan (chatmen area) sehingga kita dapat mendesing berapa settling pond yang akan di buat dan berapa ukurannya agar dapat menampung air yang mengalir dari permukaan (run off) atau air limpasan yang mengalir dari permukaan tambang sehingga air tidak meluap/tercemar.

Sebelum pembuatan settling pond dan pemeliharaannya untuk mencegah terjadinya erosi/pencemaran akibat erosi lahan, maka harus adanya kegiatan penelusuran aliran air sungai dan kegiatan pengelolahan lingkungan berupa penelusuran aliran sungai.

Gambar: 4.7. Settling pond (sedimen trap)

4.                    Cara vegetasi untuk pencegahan erosi pasca kegiatan penambangan di PT. KPT Harita Group.

Ø  Penanaman (revegetasi)
Kegiatan penanaman di lakukan setelah lokasi atau lahan yang sudah di regrading/di tata pasca kegiatan penambangan. Revegetasi sangatlah penting karena revegetasi merupakan salah satu sarana untuk mencegah terjadinya erosi tanah dan longsoran pada tebing-tebing yang sudah di tata (regrading) pasca kegiatan penambangan, dengan adanya tanaman yang sudah di tanam pada lokasi tersebut maka debit air hujan yang jatuh ke permukaan dapat berkurang karena terhalang oleh tanaman/tumbuhan tersebut, sehingga air yang mengalir di permukaan (run off) pun dapat berkurang dan tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Karena dengan ketiadaan vegetasi penutup lahan maka porositas tanah dan permeabilitas (peresapan air) akan mengalami peningkatan daya angkut aliran air permukaan (run off) pada musim hujan sehingga material erosi tanah tersebut akan terbawa aliran air permukaan (run off) menuju sungai dan mengakibatkan sedimentasi pada badan sungai-sungai penerima erosi.
Adapun jenis-jenis tanaman yang sudah di tanam antara lain tanaman pokok jenis bintangur dan gosale serta di lakukan penanaman cover crop. penanaman cover crop di lakukan pada sela-sela tanaman pokok (sengon) dan jarak tanam mengikuti pola tanaman pokok yaitu : 4 × 4 meter, dan jenis cover crop yang di tanam adalah pruiera javanica (PJ) dengan jarak 1 × 1 meter. Tanaman cover crop biasanya di tanam pada daerah tebing dan rawan longsor karena tanaman cover crop sangat berfungsi untuk mencegah terjadinya longsoran tebing akibat erosi. Penanaman cover crop yang telah di lakukan adalah pit edelweis, bougenvile, dan pit dahlia, PT. KPT Harita group kab. Halmahera timur, penanaman dilakukan dengan mengikuti luasan pananaman tanaman sengon dan tanaman pokok lainnya.
Gambar : 4.8. kegiatan penanaman (revegetasi)

v  Iklim dan Curah Hujan
            Musim di daerah Halmahera umumnya terpengaruh angain laut. Data morfologi masih sangat terbatas dan hasil pengamatan diperoleh bahwa agin barat laut bertiup pada bulan juli sampai febuari setiap tahunnya. Selama musim barat laut, agin kuat menimbulkan gelombang besar sepanjang pantai Halmahera.
            Daerah loleba dan sekitarnya juga beriklim tropis dan terdiri dari dua musim, yaitu  musim kemarau dan musim hujan.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar